Minggu, 04 Desember 2011

Cerita Jumong Episode 21

Cerita Jumong Episode 21
Oyi menjebak Dae So dan Young Po dengan mengatakan bahwa Jumong sudah berhasil mendapatkan petunjuk mengenai Metode Pencampuran Besi.
"Aku tidak yakin." kata Oyi. "Aku hanya mengatakan apa yang kutahu."

Berbeda dengan Young Po, Dae So tidak semudah itu percaya. Ia memerintahkan Na Ru agak memanggil Dok Gu untuk memastikan.
"Apa benar, bengkel pandai besi sudah menemukan petunjuk penting Metode Pencampuran besi?" tanya Dae So pada Dok Gu.
"Ketua Mo Pal Mo sepertinya memang menemukan sesuatu, tapi dia tidak memberitahu apa-apa pada kami."
"Jika kau berbohong, kau akan kehilangan nyawamu!" ancam Young Po.
"Aku tidak berani, Pangeran. Aku mengatakan hal yang sebenarnya."
Dae So dan Young Po menjadi bingung dan ragu.
Jumong dan ketiga kawannya berunding.
"Kak, kenapa kau meminta Oyi mengatakan pada mereka bahwa kita sudah menemukan petunjuk?" tanya Hyeopbo.
Jumong tersenyum, "Itu hanya hukuman untuk kedua kakakku karena memberi Oyi masa-masa sulit. Mungkin saat ini mereka sedang cemas dan bingung."
Ma Ri tertawa. "Kakak, sebenarnya kami mengabdi padamu karena kami berharap bisa memperbaiki hidup kami." katanya. "Karena itulah, saat kau meninggalkan istana lagi, kami sangat kecewa. Tapi sekarang, kami sudah benar-benar siap untuk mengabdikan seluruh hidup kami untukmu."
"Ya, Kak." ujar Hyeopbo setuju. "Jika aku adalah kau, aku tidak akan pernah melepaskan Oyi atas apa yang telah dia lakukan. Tapi kau, kau melah membawa Oyi dibawah sayapmu. Kakak, kami akan mengikutimu kemanapun jalan yang akan kau tuju."
"Terima kasih." kata Jumong, tersenyum.
Jumong meminta Oyi mengantar Bu Young ke tempat dimana Bu Young akan tinggal. Han Dong mengikuti mereka dari belakang.
Yeon Ta Bal bertanya pada So Seo No apakah putrinya tersebut sudah mengambil keputusan. Dengan yakin So Seo No menjawab bahwa ia akan menolak lamaran pernikahan dari Pangeran Dae So.
Yeon Ta Bal kecewa mendengarnya.
Yeon Chae Ryeong membujuk So Seo No agar berpikir kembali. Pangeran Dae So tidak akan sebudah itu menerima keputusan So Seo No.
"Bibi, aku akan memutuskan jalan hidupku sendiri." kata So Seo No bulat, kemudian beranjak pergi.
Yeon Ta Bal tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Geum Wa memanggil ketiga Pangeran, Yoo Hwa dan Wan Ho untuk melakukan perjamuan makan bersama. Suasana perjamuan makan makan sangat tegang.
"Jangan tegang." kata Geum Wa, tersenyum pada mereka.
Dae So, Young Po dan Permaisuri Wan Ho takut bila Geum Wa sudah memutuskan bahwa kompetisi Putra Mahkota telah berakhir, karena pada saat ini mereka jelas masih kalah dengan Jumong.
"Aku sangat penasaran sehebat apa kemampuan bela diri ketiga pangeran." kata Geum Wa, berkata sebagai seorang ayah, bukan seorang raja. "Apa kalian setuju jika kalian memamerkan kemampuan dalam kontes bela diri di depan semua pejabat istana?"
Geum Wa kelihatan sangat senang dan bersemangat, tapi tapi hanya dia sendiri. Wan Ho, Dae So dan Young Po kelihatan cemas, Yoo Hwa terkejut dan khawatir, sementara Jumong tidak menunjukkan ekspresi apapun.
Berita tentang akan diadakannya kompetisi bela diri menyebar dengan cepat.
So Seo No merasa tertarik mendengar hal ini.
"Menurutmu, siapa yang akan menang?" tanya Sayong.
"Hmm.." So Seo No berpikir. "Semua orang sudah tahu betapa hebatnya Pangeran Dae So dan aku tidak yakin pada kemampuan Pangeran Young Po. Aku sudah melihat kemampuan Pangeran Jumong dengan mata kepalaku sendiri. Aku tidak tahu siapa yang akan menang."
Sayong tersenyum penuh arti, tahu persis apa yang ada di dalam pikiran So Seo No. "Walaupun kau tidak tahu siapa yang menang, tapi ada seseorang yang kau harapkan menang, bukan?"
So Seo No tertawa. "Sebenarnya kau ingin bilang apa?"
"Ayo kita bertaruh." ajak Sayong. "Tentu saja aku tahu bahwa Nona akan mendukung Pangeran Jumong, jadi aku akan bertaruh untuk Pangeran Dae So."
"Baik." kata So Seo No. "Bagaimana dengan dua buah giok?"
"Bagus." kata Sayong setuju.
Young Po berlatih bela diri dengan Na Ru. Na Ru berhasil mengalahkannya.
Dae So menyuruh Young Po minggir dan bergantian bertarung dengan Na Ru. Dengan cemerlang, Dae So berhasil mengalahkan Na Ru dan menjatuhkannya.
"Bergabunglah dengan Young Po dan melawanku." kata Dae So.
Mulanya Young Po menolak, namun akhirnya bersedia bekerja sama dengan Na Ru untuk melawan Dae So. Lagi-lagi Dae So berhasil mengalahkan mereka.
Perdana Menteri dan Jenderal Heuk Chi kagum melihat kemampuan bela diri Dae So yang sangat hebat. Mereka yakin, pasti Dae So yang akan memenangkan kontes bela diri.
Di lain pihak, Jumong berlatih seorang diri. Ia memejamkan mata dan teringat ucapan gurunya, Hae Mo Su. "Kedua mataku tidak bisa melihat. Tapi hal tersebut tidak menjadi kelemahanku saat bertarung. Apa kau tahu kenapa? Orang biasa menggunakan mata untuk melihat pedangnya, namun seorang ahli pedang akan menggunakan seluruh tubuhnya untuk merasakan keberadaan pedangnya."
Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo datang untuk membantunya berlatih.
Oyi bertarung melawan Jumong. Dengan mudah, Jumong bisa mengalahkan Oyi.
Mo Pal Mo bekerja keras lembur semalaman untuk membuat sebuah pedang yang sempurna.
"Pedang yang sempurnya?" tanya Mu Song. "Maksudmu, pedang baja?"
"Bukan." jawab Mo Pal Mo. "Ini bukan pedang baja. Tapi ini adalah sebuah pedang yang berisi seluruh jiwa Mo Pal Mo."
Mu Song tidak mengerti, namun ia mengangguk saja.
Keesokkan harinya, Mo Pal Mo menyerahkan pedang buatannya tersebut pada Jumong.
"Aku khusus membuatkan pedang ini untuk Pangeran." kata Mo Pal Mo.
Jumong menerima pedang itu dan menatapnya teliti.
"Dia bilang, ia membuat pedang itu dan mengisinya dengan seluruh jiwanya." kata Mu Song.
"Pangeran, kau harus berusaha yang terbaik pada kontes bela diri." kata Mo Pal Mo.
"Terima kasih, Ketua." ujar Jumong.
Ketika hendak berjalan pulang, Yeon Chae Ryeong meminta maaf pada Mo Pal Mo atas sikapnya waktu itu. Mo Pal Mo memejamkan mata dan menganggap Chae Ryeong tidak ada.
Mu Song berkata bahwa Chae Ryeong pasti jatuh cinta pada Mo Pal Mo, namun Mo Pal Mo bilang dia tidak menyukai wanita. Hidupnya hanya untuk bengkel pandai besi.

Dae So sangat yakin bahwa ia akan menang. Oleh karena itu, dia memerintahkan Na Ru mengirim surat undangan pada So Seo No dan keluarga untuk datang ke kontes bela diri.

Hari pelaksanaan kontes dimulai.
Pertandingan pertama adalah memanah.
Dae So maju terlebih dahulu. Semua panah yang ditembakkan olehnya mendarat dengan sempurna ke tengah-tengah sasaran. Dae So tersenyum puas.
Giliran kedua adalah Young Po. Young Po juga bisa menembakkan panah ke sasaran, namun tidak pas di tengah. Pada tembakan terakhir, ia sengaja membuat panahnya meleset agar Dae So semakin terlihat lebih baik. Young Po pura-pura terlihat kecewa.
Giliran ketiga adalah Jumong. Sebelum memanah, Jumong merentangkah busurnya terlebih dahulu untuk mengukur target. Setelah itu, ia mengambil semua panah dan menusukkannya di lantai. Ia mengeluarkan selembar kain dan mengikatkannya untuk menutupi mata. Ia kemudian mengambil panah satu per satu dengan cepat dan menembakkannya tepat di tengah sasaran, dititik yang sama.
Semua orang terkejut dan memandang dengan kagum.
Geum Wa melihat Jumong. Tiga buah kata tiba-tiba terlontar dari bibirnya, "Hae Mo Su!"
Pertandingan kedua adalah duel.
Duel pertama adalah pertarungan Jumong melawan Young Po. Karena Dae So sudah dikenal memiliki kemampuan yang tinggi, maka mereka ingin memberi kesempatan bagi Jumong atau Young Po yang berhasil menang, untuk melawan Dae So.
Young Po dan Jumong membungkuk, saling memberi hormat. Dimulailah duel tersebut.
Young Po menyerang Jumong, namun Jumong tidak melawan, hanya menghindar.
"Kenapa kau hanya menghindar?!" seru Young Po, merasa direndahkan.
"Baiklah. Aku akan menyerang mulai sekarang." kata Jumong tenang.
Jumong menyerang Young Po dan menendangnya. Young Po terjatuh, kemudian pingsan.
Pertarungan yang sangat singkat, rupanya.
Jumong memenangkan pertandingan, maka duel selanjutnya adalah antara Dae So dan Jumong, diadakan setelah makan siang.

Young Po sangat malu dan meminta maaf karena ia kalah. Dae So memarahinya, "Dasar bodoh! Sudah kubilang padamu jangan menganggap remeh kontes ini."
Wan Ho membela Young Po. "Ini bukan salah Young Po. Kemampuan Jumonglah yang sangat luar biasa." katanya. "Bagaimana jika kau sulit mengalahkannya?"
"Jangan khawatir, Ibu." kata Dae So.

So Seo No mendatangi Jumong dan menyatakan kekagumannya. "Walaupun aku sering melihatmu berlatih, tapi aku tidak tahu kau sehebat ini."
Jumong tersenyum.
"Jika kau menang hari ini, aku yakin gurumu akan bangga." kata So Seo No.

Pertarungan antara Dae So dan Jumong dimulai. Tidak seperti pertarungan dengan Young Po yang 'ecek-ecek', pertarungan Jumong melawan Dae So sangat sengit. Disamping itu, mereka juga menggunakan pedang, membuat pertarungan semakin seru.
Para penonton melihat dengan tegang.
Kemampuan mereka berdua setara. Geum Wa menghentikan pertarungan sebelum ada salah satu yang menang dan yang kalah.
"Kalian boleh berhenti." kata Geum Wa. "Tidak akan mudah memutuskan siapa yang menang dan yang kalah dalam pertarungan ini."
Dae So protes pada Geum Wa. "Aku belum menggunakan seluruh kekuatanku." kata Dae So. "Tolong izinkan kami bertarung sampai ada yang menang."
Geum Wa tersenyum. "Sudah cukup. Kalian sudah berusaha dengan baik."
Dae So kecewa dan melirik ke arah So Seo No. Ia bisa dibilang kalah dari Jumong.

"Yang Mulia melakukan ini dengan tujuan tertentu." kata Wan Ho. "Ia ingin membuat Jumong diakui oleh semua pejabat istana."
"Kakak, jangan terlalu kesal." hibur Young Po. "Kakak tidak kalah darinya."
Dae So kesal bukan main. "Bertarung seimbang melawannya sama dengan kalah! Apa kau tidak lihat bagaimana terkejutnya pada pejabat saat kontes bela diri?!" teriaknya pada Young Po.

Para pejabat memuji Jumong.
"Pangeran Jumong membuatku terkesan saat di kota Hyeon To." ujar Jenderal Heuk Chi. "Hari ini, dia membuatku terkejut lagi dengan kemampuan bela dirinya yang luar biasa. Aku tidak pernah melihat kemampuan memanah seperti yang dia miliki."
Para pejabat tertawa, kecuali Perdana Menteri dan Paman Dae So.
"Juga saat pertarungannya dengan Pangeran Dae So!" tambah seorang pejabat. "Dia bahkan bisa mengimbangi Pangeran Dae So yang menurut semua orang di BuYeo tidak terkalahkan."
"Tidak!" kata Paman Dae So tidak mau kalah. "Kurasa, Pangeran Dae So masih berada di atas Jumong dari segi kemampuan berpedang."

Dae So putus asa. Ia menemui So Seo No.
"Aku telah mempermalukan diriku sendiri di depanmu." kata Dae So sedih, sekaligus malu.
"Pangeran tidak perlu malu." kata So Seo No. "Bukankah kalian seimbang?"
"Aku kalah. Aku merasa hampa." kata Dae So. Ia memandang So Seo No. "Kurasa hanya kaulah yang bisa mengisi kehampaanku. Apa kau sudah mengambil keputusan?"
So Seo No diam sejenak. "Pangeran, aku... tidak bisa menerima lamaranmu. Aku... sudah memiliki seseorang di dalam hatiku."
Dae So sangat terkejut. "Siapa dia?" tanyanya. "Apakah dia... Jumong?"
So Seo No tidak menjawab, pertanda bahwa apa yang dikatakan Dae So memang benar. Jumong-lah yang ada di hatinya.
"Jadi memang Jumong!" Dae So berata shock dan penuh kemarahan. "Orang yang mendapatkan hatimu adalah Jumong!" Ia tertawa pahit. "Aku tidak bisa menerima ini! Aku tidak bisa kehilanganmu! Aku tidak akan melepaskanmu! So Seo No, kau harus menjadi milikku!"
So Seo No menatap Dae So takut.
Dae So keluar dari ruangan itu dan berjalan melewati gerbang. Di sana, ia bertemu dengan Jumong dan kawan-kawannya. Tanpa mengatakan apa-apa, Dae So berjalan melewatinya.
"Kurasa ada sesuatu yang terjadi." bisik Ma Ri.
Dae So kembali ke istana. Kemarahan benar-benar telah menguasainya. Ia berjalan menuju kamar Geum Wa untuk bicara dengan ayahnya itu.
"Ada yang harus kukatakan." kata Dae So. "Benda keramat BuYeo, Busur Da Mul, telah rusak."
"Aku sudah tahu." kata Geum Wa santai.
"Dan kau juga tahu bahwa orang yang merusak busur Da Mul adalah Jumong?"
Geum Wa menatap Dae So, terkejut.
"Merusak benda keramat BuYeo adalah sebuah kejahatan besar." Dae So memprovokasi. "Selain itu, Jumong juga berbohong pada ayah."
Geum Wa diam, bepikir. "Benarkah?" tanyanya. "Lalu apa alasanmu memberi tahu aku sekarang?"
"Ini adalah masalah serius dan aku sangat khawatir. Demi masa depan BuYeo, aku memutuskan untuk datang dan memberitahu ayah." kata Dae So.
"Aku mengerti." ujar Geum Wa tenang, seeperti tidak terjadi apapun. "Kau boleh pergi."
Dae So sangat terkejut melihat sikap ayahnya yang tenang dan tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ia berdiri dan memohon diri untuk pamit.

Keesokkan harinya, Dae So mengirim surat pada Yang Jung dan bertanya mengenai rahasia pembuatan senjata baja.
Yang Jung tersenyum. Metode pembuatan senjata baja merupakan hal yang sangat rahasia. Namun, Yang Jung punya rencana lain. "Dengan memberinya rahasia ini, aku akan menerima sesuatu yang lebih berharga sebagai gantinya." pikir Yang Jung licik. Ia kemudian memerintahkan pada pengawalnya, Wang So Eun dan Dong Yang agar pergi ke BuYeo.

Permaisuri Wan Ho dan kroni-kroninya cemas bukan main, Mereka mencari cara yang bisa memudahkan jalan Dae So menjadi Putra Mahkota. Andai saja peramal Ma Oo Ryeong menjadi Peramal Tertinggi, pasti ia akan membantu Dae So meraih tahta.
Dalam hati, Young Po merencanakan sesuatu secara diam-diam.
Sebagian besar para peramal beranggapan bahwa perseteruan Yeo Mi Eul dengan Raja Geum Wa hanya akan membuat Divisi Ramalan menjadi sulit.
Seorang peramal muda bernama So Ryeong membela Yeo Mi Eul. "Maksud kalian, kalian ingin mengusir peramal Yeo Mi Eul dari Istana Ramalan?" tanyanya sinis.
"Kami tidak bermaksud begitu." kata Ma Oo Ryeong. "Tapi sebagai peramal, kita seharusnya tidak terlibat dalam konflik apapun."

Utusan Yang Jung tiba di BuYeo. Mereka mengatakan pada Dae So bahwa Yang Jung menerima permintaan Dae So. Tapi ada satu syarat, ia ingin Dae So menikah dengan putrinya.
Young Po menemui Do Chi untuk menjalankan rencana rahasianya. Ia menyuruh Do Chi untuk memberinya beberapa prajurit tangguh.
"Untuk apa?" tanya Do Chi.
"Kau tidak perlu tahu. Lakukan saja apa yang kukatakan." kata Young Po.
Young Po kemudian memerintahkan prajurit tersebut melakukan sesuatu secara rahasia.

Young Po meminta Do Chi membawa Bu Young ke hadapannya. Do Chi bilang bahwa Jumong sudah membawa Bu Young pergi.
"Apa kau tahu dimana dia tinggal?!" tanya Young Po marah seraya menggebrak meja. "Aku akan menghancurkan siapapun yang berhubungan dengan Jumong!"
Han Dong mengantar Young Po ke rumah Bu Young.
Young Po masuk ke rumah itu. "Aku ingin menghabiskan malam bersamamu." kata Young Po. Ia mencoba memeluk Bu Young, namun Bu Young melawan. Young Po marah dan memukul Bu Young.

Ma Ri, Oyi dan Hyeopbo memberi tahu Jumong bahwa Bu Young diculik.
"Siapa? Siapa yang melakukannya?!" tanya Jumong cemas.

0 komentar:

Poskan Komentar